Pendakian ini dilakukan tahun 2010 dalam kegiatan “Ekspedisi Citra Lintas Nusantara (ECLN) 2010” tim yang melakukan pendakian terbagi 3, untuk mendaki sepuluh gunung di nusantara, mulai dari Gunung Kerinci dan Gunung Dempo di Sumatra, Gunung Semeru dan Gunung Raung di Jawa, Gunung Meratus di Kalimantan, Gunung Latimojong & Gunung Bawakaraeng di Sulawesi, Gunung Agung di Bali, dan Gunung Binaiya di Maluku.

 

Pencakar Tertinggi langit Celebes

         Pegunungan Latimojong merupakan salah satu pegunungan yang berada di Pulau Sulawesi, tepatnya berada di provinsi Sulawesi selatan, Pegunungan Latimojong mempunyai banyak Puncak-puncak yang diantaranya memiliki ketinggian diatas 3000 Mdpl, dan salah satunya adalah Puncak Rante Mario (3450 Mdpl) yang merupakan Puncak Tertinggi yang ada di Pulau Sulawesi.

Jalur Menuju Pegunungan Latimojong, (R. Mario)

            Secara Administratif, Pegunungan Latimojong berada di Kabupaten Enrekang, Palopo dan Tana Toraja, namun bila menuju ke Puncak Rante Mario, jalur yang lazim digunakan adalah melalui Kabupaten Enrekang, dari kota Kecamatan Baraka.

         Dari Makassar, anda dapat menggunakan jasa angkutan berupa mobil Kijang/Panther atau sejenisnya yang menuju ke Baraka, Kabupaten Enrekang, harga terakhir yang berlaku (Juli 2010) adalah sebesar Rp 60.000,- dari Makassar – Baraka, dengan Waktu Tempuh ± 6 Jam, kemudian anda akan turun di pasar Baraka, dari pasar tersebut perjalanan akan dilanjutkan dengan menggunakan mobil Hard top atau Jeep, dengan harga 30.000 per kepala.

            Namun yang perlu diperhatikan adalah mobil hard top atau jeep tersebut biasanya hanya ada ketika berlangsung Hari Pasar, yaitu hari dimana para penduduk yang hidup di kaki pegunungan latimojong turun ke pasar di Baraka untuk menjual segala hasil buminya, seperti kopi, bawang, kentang, salak, dll. Untuk itu amat disarankan untuk mengatur waktu operasional tiba anda tepat ketika hari pasar sedang berlangsung. Agar anda tidak perlu menunggu lama di Baraka untuk menanti Hard top/Jeep.

       Dari pasar Baraka kita akan menaiki Hard Top/Jeep menuju Desa Latimojong, desa tersebut terdiri dari 3 dusun, yaitu Rante Lemo, Angin-Angin dan Karangan, dengan data terakhir Hard top tersebut hanya dapat mengantar sampai ke Dusun Rante Lemo. Jalur yang akan kita lewati amat becek dan memang hanya bisa dilalui dengan Hard top / Jeep yang memiliki Double Gardan / 4 Wheel Drive, dengan Waktu Tempuh ± 2 ½ Jam.

Di baraka ini juga, kita lapor diri dan bersilaturrahim dengan Kelompok Pecinta Alam setempat yang Bernama KPA Lembayung, KPA Lembayung juga sering mengantar pendaki – pendaki yang meminta untuk ditemani dalam mendaki gunung Latimojong, sekretariat KPA Lembayung berada di belakang Sekolah dasar di sebelah Lapangan Bola Baraka, dekat juga dengan rumah bapak Dadang yang dikenal banyak mengetahui tentang Gunung Latimojong. Biasanya Anggota KPA Lembayung juga berkenan membantu dalam mencari mobil yang menuju ke desa Rante Lemo.

Perjalanan menuju dusun Rante lemo dilalui dengan susah payah untuk tetap berpegangan dan bertengger di mobil Hard Top, karena jalan yang dilalui tidak semulus jalan tol Jagorawi, tapi amat seru bila kita menikmatinya, mirip seperti sedang berarung jeram, namun pastinya yang harus diperhatikan bahwa kalau kita terjatuh, hanya ada dua pilihan jatuh ke jurang yang ada di sebelah kanan, atau terbentur batu – batu yang ada di sebelah kiri. Waw tidak ada pilihan yang enak bukan ??.

Istirahat sejenak

Tiba di Dusun Rante Lemo kita masih harus melanjutkan ke dusun karangan, sebuah dusun terakhir sebelum Pendakian ke Pegunungan Latimojong, jalur yang akan dilewati cukup menanjak dengan medan pasir batu dan kadang jalan pengerasan, sepanjang jalan menuju karangan kita akan melewati dusun kecil bernama karuaja dan bulukumba, waktu tempuh yang diperlukan adalah ± 2 Jam, sepanjang jalan tersebut kita akan melihat dusun-dusun yang seperti bertengger diatas perbukitan. Setelah berjalan ± 2 jam maka kita akan memasuki Dusun Karangan.

Dusun Karangan, yang kini menjadi “ibu kota” dari Desa Latimojong di dominasi rumah panggung tinggi yang memiliki fungsi selain sebagai sebuah rumah tinggal, namun juga menjadi tempat para penduduk menyimpan  hasil pertaniannya, yang umumnya adalah Kopi, di dusun ini para penduduknya juga amat ramah dan selalu menawarkan untuk menginap di rumahnya, kadang terdengar suara radio dan tivi dari dalam rumah, ya….. karena walaupun dusun ini terletak amat jauh, namun telah dijamah oleh Listrik.

Jalur Pendakian Menuju Puncak Rante Mario

            Dari dusun karangan, kita akan berjalan menyusuri kebun-kebun kopi milik para penduduk, medannya berbukit-bukit dengan tanah becek sebagai pijakan kita, di sebelah kiri kita sungai (salu) Karangan mengalir deras, dan kira – kira  20  menit  kemudian kita akan mendaki sebuah bukit dengan medan cukup Terjal dan akan sampai di pos 1 yang terletak diatas bukit tersebut.

            Perjalanan akan terlihat indah bila cuaca sedang cerah, karena kita dapat melihat perkebunan kopi dan cengkeh milik warga desa karangan dan sekitarnya, isilah air di sungai kecil yang melintang di jalur menanjak menujunke pos 1, karena dari situ kita akan baru bertemu air lagi di pos 2.

            Jalur untuk mencapai pos 2 dilalui dengan mendaki punggungan sebuah bukit yang tipis dengan igir-igir yang memanjang, kemudian kita akan mulai memasuki canopy hutan yang lumayan sudah rapat, perjalanan tidak begitu terjal, malahan setengah perjalanan akan bertemu jalur menurun, karena pos 2 terletak di pinggir sungai. Pos 2 merupakan sebuah pos yang berada di pinggir sungai dan terdapat cerukan lumayan besar dari batu besar yang terdapat di pinggir sungai tersebut, dan cerukan tersebut sering dijadikancampuntukpara pendaki..

Untuk menujun Pos 3, kita harus benar – benar  menyetel Carrier kita senyaman mungkin, karena jalur menuju pos 3 benar-benar terjal dan hampir tegak, untuk mendakinya tak jarang kita memerlukan bantuan tangan, walaupun jaraknya hanya sekitar 0,6 Km, namun memerlukan waktu ± 40 menit dari pos 2. Medan yang dilalui di awal merupakan bebatuan lepas yang bisa menjadi berbahaya bila kita berjalan tidak hati hati, beberapa waktu kita harus menggunakan tangan untuk membantu pergerakan untuk tetap naik, mungkin sudah termasuk dalam klasifikasi Scrambling.

            Pos 3 merupakan pos yang tidak begitu besar, hanya seperti tempat istirahat ketika lelah mendaki, lagipula di pos ini tidak terdapat sumber air, setelah di pos 3 beristirahat sejenak, perjalanan akan tetap mendaki menuju pos 4, namun jalur menuju pos 4 tidak seterjal sebelumnya, namun jarak yang akan ditempuh lebih panjang, pos IV berada di punggungan dan tempat ini lumayan luas, namun Pos 4 tidak mempunyai tempat air.

            Perjalanan dari pos 4 akan berlanjut melalui hutan-hutan berlumut, perhatikan kaki anda, banyak terdapat akar-akar tanaman yang menonjol keluar dan kalau tidak hati-hati anda bisa tersandung, perjalanan menuju pos 5 lumayan menanjak namun tidak terlalu terjal, hanya saja agak panjang dan lebat hutannya, setelah kira-kira satu jam, kita akan tiba di Pos 5.

            Pos 5 merupakan tanah datar yang lumayan luas, namun bila sehabis hujan, air biasanya menggenangi daerah tengah-tengah pos 5, terdapat bekas pohon tumbang disini, di pos 5 ini dapat memuat 10 – 12 buah tenda dome, di pos 5 terdapat sumber air, namun anda harus berjalan ± 200 meter untuk menuju sumber air tersebut, dan untuk menuju sumber air tersebut anda harus berjalan ke arah pos 6 dan kemudian akan menemukan sebuah pertigaan, ke kanan adalah menuju pos 6 dan ke kiri (turun) menuju ke sumber air, dari pos 5 ini juga anda dapat melihat sebuah air terjun di kejauhan diatas bukit yang terdapat di depan anda, tentunya bila cuaca cerah.

             Dari pos 5 diperlukan waktu kira-kira 50 menit untuk tiba di pos 6, jalurnya akan benar-benar menanjak dan udara dingin sudah benar-benar menusuk, bila tiba di pos 6 maka kita sudah mulai bisa melihat pegunungan latimojong di sekitar kita, dan untuk menuju pos 7, perjalanan akan benar-benar mengasyikan. Karena perjalanan kita akan melewati jalur sempit yang berada di atas awan-awan yang bergulung, cahaya matahari akan terlihat sangat indah apabila anda melewati jalur ini pada sore hari di hari yang cerah, anda harus benar-benar memperhatikan langkah, karena di sebelah kanan kiri anda terdapat jurang yang curam.

            Setelah berjalan kira-kira 90 menit dari pos 6, maka anda akan tiba di pos 7, sebuah pos yang paling indah di jalur ini, dari sini seakan-akan anda sudah berada di puncak, ketinggiannya adalah 3100 Mdpl, disini terdapat sebuah sungai di lembah sebelah kiri, dan untuk mencapai puncak rante Mario hanya diperlukan waktu kurang dari 30 menit lagi. Pos 7 ini juga merupakan tempat melihat pemandangan jajaran pegunungan latimojong, hutan – hutan lebat dan cakrawala di kejauhan semua terlihat disini, apalagi pada sore hari, awan – awan seputih kapas begelung dan disinari mentari sore yang berwarna jingga. Sungguh pemandangan yang super indah.

            Bila anda sudah tiba sore hari di pos 7, anda dapat melanjutkan untuk menuju pos 8 atau langsung menuju puncak, namun para pendaki lebih banyak menginap dan membuat camp di pos 7, selain karena di pos 7 sumber air lebih terjamin, juga karena letak pos 7 lebih tertutupi daripada pos 8 yang berupa dataran luas yang rawan angin. Dan untuk summit attack, para pendaki lebih sering melakukannya di pagi hari.

            Perjalanan menuju Puncak Rante Mario tetap akan bertemu tanjakan demi tanjakan, namun setelah 5 menit kemudian, kita akan tiba di padang yang mengingatkan pada lembah mandalawangi di gunung pangrango, hanya saja tidak banyak ditumbuhi bunga edelweisse. Terbentang memanjang, jalur menuju puncak, dengan didominasi batu-batuan putih di kaki kita, tumbuhannya tidak lagi tinggi – tinggi, namun hanya setinggi leher orang dewasa, dan biasanya jalur menuju puncak ini lebih sering ditutupi oleh kabut dan di serbu angin yang menderu – deru.

            Lima belas menit kemudian kita bisa melihat langsung tugu triangulasi berwarna putih, dan kita telah berada di puncak tertinggi tanah Celebes.

EC.2708 – 0259

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

2 responses »

  1. Wawan Liyanto mengatakan:

    keren artikelnya, seru banget….

  2. jadi kangen pengen kesana lagi.. 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s